Semangat Toleransi dan Kolaborasi: Mahasiswa Manajemen Dakwah Turut Serta dalam Opening RKM di Senduro
Lumajang, 5 Juli 2025 — Sebanyak 11 mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah angkatan 2023 dan 2024 turut ambil bagian dalam kegiatan Opening Riset Kolaboratif Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat siang pukul 14.00 WIB bertempat di Aula Pura Mandragiri Semeru Agung, Desa Senduro, Kabupaten Lumajang.
Acara dibuka dengan nuansa sarasehan lintas iman yang menggambarkan semangat kebersamaan dan kemanusiaan. Dalam sambutannya, Ahmad Hayyan Najikh, M.Kom.I. selaku ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan Pura sebagai simbol bahwa perbedaan agama bukan penghalang, melainkan penguat dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat bangsa.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Desa Senduro, Farid Rahman. Beliau berharap acara ini tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga membawa output nyata bagi warga desa. “Saya harap acara ini bisa membawa dampak positif, menjadi deklarasi ide-ide baru, serta menambah khazanah pemahaman tentang moderasi beragama di tengah masyarakat kita,” ujarnya. Wakil Rektor III, Khoirul Faizin, turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini sebagai bentuk nyata dari komitmen kampus dalam membangun kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan masyarakat secara langsung.
Kegiatan ini dimoderatori oleh Bapak Farhan dan menghadirkan beragam narasumber lintas agama yang menunjukkan wajah toleransi dan moderasi beragama yang nyata di masyarakat. Salah satu narasumber, Wira Darma, perwakilan dari umat Hindu, menyampaikan bahwa Desa Senduro adalah contoh nyata toleransi. “Setiap Ramadan, kami bersama berbagi 3000 takjil. Masyarakat merasa terbantu dan beranggapan bahwa ini bukan teori, tapi praktik nyata toleransi,” ujarnya.
Kepala KUA Senduro, Didik Khoirur Rozik, menegaskan bahwa desanya dikenal sebagai “Kampung Moderasi Beragama” di Kabupaten Lumajang. “Moderasi beragama adalah sikap berada di tengah tidak condong ke kanan atau kiri dengan menjunjung nilai-nilai kebangsaan. Ini penting untuk menjaga keharmonisan,” tegasnya.
Narasumber dari umat Kristen, Jendrik, menyampaikan pentingnya menghormati sesama manusia dalam semangat kebersamaan. “Moderasi beragama dimulai dari saling menghargai, tanpa melihat latar belakang agama,” ucapnya. Misbah Isnaifah, perwakilan dari Gema Palu, menyoroti peran penting perempuan dalam membangun moderasi beragama. “Perempuan punya peran signifikan, terutama dalam ruang domestik. Tapi ketika masuk ke ruang konstruktif, ada tantangan besar yang harus dihadapi,” jelasnya.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Dakwah, Dr. Fawaizul Umam, M.Ag, menekankan pentingnya menjaga nilai toleransi di tengah masyarakat yang majemuk. “Toleransi adalah pilar utama keberagaman. Jika tidak dijaga, akan merusak harmoni yang sudah terbentuk. Penguatan moderasi beragama sangat penting, apalagi sejak era pasca-Orde Baru, keragaman kita terus menghadapi tantangan,” ungkapnya.
Menurut beliau, riset kolaboratif mahasiswa seperti ini menjadi wadah strategis untuk membaca realitas sosial masyarakat secara langsung melalui perspektif moderasi beragama. Sarasehan ini bukan hanya mempertemukan lintas iman dalam diskusi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai hidup berdampingan dalam damai kepada generasi muda calon pemimpin bangsa.
Penulis : Lina Oktafiana
Editor : Aprilya Fitriani



