Refleksikan Cinta Tanah Air di Hari Santri Nasional
Jember, 22 Oktober 2025 - Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum penting bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember untuk meneguhkan semangat perjuangan para santri dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 1945 diperingati sebagai tonggak sejarah bangkitnya santri dan kiai yang mengangkat takbir bukan untuk berperang semata, tetapi untuk membela tanah air. Mereka memahami bahwa cinta kepada tanah air adalah ajaran Rasulullah SAW dan merupakan perintah syariat.
Sebagaimana dikutip dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas r.a., beliau menceritakan:
“Ketika Rasulullah dalam perjalanan dan melihat tembok-tembok Madinah, beliau mempercepat kendaraannya karena kecintaannya kepada kota keduanya, yaitu kota Madinah.” (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi)
Dari riwayat tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar ucapan, melainkan tindakan nyata. Rasulullah menunjukkan cintanya kepada Madinah dengan mempercepat perjalanannya karena kerinduannya kepada kota itu.
Riwayat tersebut dikomentari oleh Al-Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, yang menjelaskan bahwa hadis tersebut memiliki beberapa makna. Pertama, menunjukkan keistimewaan dan kemuliaan kota Madinah. Kedua, menjadi dalil bahwa cinta dan rindu kepada tanah air diperintahkan oleh syariat. Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Badr Al-Din Al-Aini dalam Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari (Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135).
Selain itu, Umar Ibnul Khattab dalam Tafsiruhul Ma’ani menyebutkan bahwa tanpa adanya dorongan cinta kepada tanah air, suatu negara akan hancur. Namun, dengan dorongan cinta kepada tanah air, negara akan menjadi makmur.
Berdasarkan nilai-nilai tersebut, mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah UIN KHAS Jember menegaskan komitmen mereka untuk menerapkan ajaran syariat dan teladan Rasulullah SAW, yakni mencintai tanah air. Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah bertekad menjadi generasi adaptif dan inovatif yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa mengurangi nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar perjuangan mereka.
Oleh : Sodikin



